Tag Archives: perilaku menyimpang

Perilaku Menyimpang dan Sikap Antisosial

Perilaku Menyimpang

Proses sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat tidak selamanya selalu menghasilkan pola-pola perilaku yang sesuai dan dikehendaki masyarakat, adakalanya proses tersebut menghasilkan perilaku menyimpang dari norma-norma yang berlaku. Padahal, diciptakan berbagai macam norma sosial, baik tertulis maupun tidak tertulis, dengan tujuan agar tercipta keteraturan dan ketertiban dalam masyarakat.

Pada kehidupan sehari-hari, sering kita mendapatkan pemberitaan, baik melalui media cetak maupun elektronik, tentang perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anggota masyarakat, seperti pencurian, pemer kosaan, penipuan, perkelahian, sampai terjadi pembunuhan. Perilaku menyimpang seperti ini jelas sangat mengganggu ketertiban dan menciptakan keresahan di masyarakat. Pada bagian ini, akan dibahas tentang perilaku menyimpang dan bagaimana perilaku menyimpang tersebut dapat terjadi serta bagaimana upaya pengendaliannya.

1. Pengertian Perilaku Menyimpang

Kehidupan di masyarakat tidak selamanya sejalan dengan nilai dan norma yang berlaku, serta sesuai dengan harapan, akibatnya banyak terjadi penyimpangan. Adapun definisi perilaku menyimpang (deviant behavior) itu sendiri adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

Seseorang yang melakukan penyimpangan pada umumnya disebut tindakan yang melanggar aturan. Tindakan menyimpang ini terdorong untuk mendapatkan sesuatu. Banyak orang yang percaya bahwa yang melakukan penyimpangan (atau orang yang pertama kali melakukan penyimpangan), dengan sengaja dan penuh kesadaran atau kurang sadar karena ada motif-motif tertentu. Akan tetapi, di masyarakat ada pula yang melakukan penyimpangan secara tidak sengaja, bukan berarti tidak menaati norma yang berlaku, melainkan dapat disebabkan keterpaksaan, keteledoran atau ketidaktahuan. Setiap kelompok menginginkan adanya perilaku yang teratur dan sesuai dengan yang diinginkan para anggotanya. Keteraturan dihasilkan dari proses sosialisasi sehingga penyesuaian diri merupakan bentuk interaksi sosial agar perilaku seseorang terhadap orang lain sesuai dengan harapan-harapan kelompoknya. Apabila perilaku yang terjadi tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat, terjadilah suatu penyimpangan.

Perilaku menyimpang merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Penyimpangan juga bisa disebabkan oleh penyerapan nilai dan norma yang tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kedua hal tersebut cukup berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang sehingga menghasilkan perilaku yang menyimpang.

Untuk lebih memahami tentang perilaku menyimpang, berikut beberapa definisi dari para sosiolog.

a. Paul B. Horton. Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

b. James Vander Zander. Perilaku menyimpang adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai suatu hal tercela dan di luar batas-batas toleransi.

c. Robert M.Z. Lawang. Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.

Dari definisi tersebut, dapat disimak bahwa norma sosial merupakan ukuran menyimpang atau tidaknya suatu perbuatan. Nilai dan norma bersifat relatif karena mengalami perubahan atau pergeseran dan kegunaannya berbeda antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lainnya. Dengan demikian, perilaku yang dapat dikatakan menyimpang pun relatif, bergantung pada situasi, kondisi, dan sistem sosial suatu masyarakat. Contohnya, sekarang banyak pemuda yang memakai perhiasan seperti wanita. Hal tersebut kini dianggap sebagai hal biasa bahkan menjadi mode. Padahal dahulu hal seperti itu dianggap sebagai perilaku menyimpang. Kumpul kebo (samen leaven) atau hidup bersama di luar nikah merupakan perbuatan yang bisa diterima pada masyarakat barat, tetapi di Indonesia merupakan perbuatan menyimpang karena melanggar norma kelompok atau masyarakat.

Perilaku menyimpang beberapa individu bisa saja menjadi awal dari terbentuknya suatu norma baru. Hal ini dapat dimungkinkan apabila perilaku menyimpang tersebut banyak pengikutnya dan mendapatkan dukungan dari kelompok organisasi untuk membenarkan penyimpangan itu. Perbuatan tersebut tidak lagi dipandang sebagai perilaku menyimpang, tetapi sebagai norma baru. Perilaku menyimpang, sering merupakan awal dari penye suaian untuk masa yang akan datang. Tanpa perilaku menyimpang, suatu penyesuaian terhadap perubahan akan mengalami kesulitan. Contohnya, dahulu wanita yang berani berpendapat dalam keluarga karena menentang perjodohan oleh orangtuanya dianggap sebagai penyimpangan. Hal tersebut merupakan awal dari penyesuaian terhadap perubahan sehingga sekarang kita dapat melihat wanita semacam itu dianggap hal yang biasa.

2. Ciri-Ciri Perilaku Menyimpang Berdasarkan uraian sebelumnya, berarti tidak semua perilaku menyimpang selalu berakibat negatif. Namun persoalannya, penyimpangan yang bagaimana yang dapat diterima masyarakat? Hal tersebut bergantung pada norma sosial yang diperlukan masyarakat pada masa yang akan datang.

Untuk itu, Paul B. Horton memberikan ciri-ciri perilaku menyimpang sebagai berikut.

a. Penyimpangan Harus Dapat Didefinisikan

Orang tidak dapat menuduh atau menilai suatu perbuatan menyimpang secara sembarangan. Perbuatan dapat dikatakan menyim pang jika didefinisikan sebagai menyimpang. Perilaku menyimpang merupakan akibat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku tersebut, dan bukan semata-mata ciri tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Dengan kata lain, menyimpang tidaknya suatu perilaku harus dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.

b. Penyimpangan Bisa Diterima Bisa Juga Ditolak

Tidak selamanya perilaku menyimpang merupakan hal yang negatif. Ada beberapa penyimpangan yang dapat diterima bahkan dipuji dan dihormati. Contohnya, hasil penemuan para ahli tentang sesuatu kadang-kadang bertentangan dengan kebiasaan lama yang bersifat umum.

c. Penyimpangan Relatif dan Penyimpangan Mutlak

Pada dasarnya, semua orang normal sesekali pernah me lakukan tindakan menyimpang, tetapi pada batas-batas tertentu bersifat relatif untuk setiap orang. Bahkan, orang yang tadinya penyimpang mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungannya.

Bahkan, pada kebanyakan masyarakat modern, tidak ada seorang pun yang masuk kategori sepenuhnya penurut (konformis) ataupun sepenuhnya penyimpang (orang yang benar-benar menyimpang). Alasannya, orang yang termasuk kedua kategori ini justru akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya.

d. Penyimpangan terhadap Budaya Ideal

Maksud dari budaya ideal di sini adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam masyarakat, tetapi dalam kenyataannya banyak anggota masyarakat yang tidak patuh terhadap segenap peraturan resmi (budaya ideal) tersebut. Contohnya, budaya antre dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar.

e. Terdapat Norma-Norma Penghindaran

Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan seseorang untuk memenuhi keinginan pihak lain, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terang-terangan atau terbuka. Contohnya, apabila pada suatu masyarakat terdapat norma yang melarang suatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat oleh banyak orang, akan muncul “norma-norma penghindaran.” Jadi, norma-norma penghindaran merupakan suatu bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga (semiinstitutionalized).

f. Penyimpangan Sosial Bersifat Adaptif

Perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Tidak ada masyarakat yang mampu bertahan dalam kondisi statis untuk jangka waktu lama. Masyarakat yang terisolasi sekalipun akan mengalami perubahan. Ledakan penduduk, perubahan teknologi, serta hilangnya kebudayaan lokal dan tradisional mengharuskan banyak orang untuk menerapkan norma-norma baru.

3. Proses Pembentukan Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Dalam pelajaran terdahulu, nilai dan norma adalah suatu pedoman untuk mengatur perilaku manusia. Dalam internalisasi nilai dan norma ini, terjadi proses sosialisasi dalam diri seseorang. Ada seseorang yang mampu melakukan proses sosialisasi dengan baik dan ada pula yang tidak dapat melakukan proses sosialisasi dengan baik. Dengan demikian, pembentukan perilaku menyimpang merupakan suatu proses yang dapat dipandang dari berbagai sudut sebagai berikut.

a. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Sosiologi

Kehidupan bersama dalam suatu kelompok masyarakat melahirkan kebudayaan yang berisi tujuan-tujuan bersama dan cara-cara yang diperkenankan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Sebagai akibat dari proses sosialisasi, individu-individu belajar mengenali tujuan-tujuan kebudayaannya. Selain itu, mereka juga mempelajari cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan yang selaras dengan kebudayaannya. Jika kesempatan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut tidak terdapat, setiap individu mencari cara lain yang kadang-kadang menimbulkan penyim pangan. Apalagi jika tiap individu diberi kesempatan untuk memilih cara-caranya sendiri, kemungkinan perilaku menyimpang yang terjadi akan semakin besar.

Sebab perilaku menyimpang dalam sosiologi dapat dilihat dari hal-hal berikut.

1) Perilaku Menyimpang Karena Sosialisasi

Teori ini didasarkan pada pandangan bahwa dalam kehidupan masyarakat ada norma inti dan nilai-nilai tertentu yang disepakati oleh seluruh anggotanya. Teori ini menekankan bahwa perilaku sosial, baik yang bersifat menyimpang maupun tidak, dikendalikan oleh norma-norma dan nilai-nilai yang dihayatinya. Perilaku menyimpang disebabkan oleh adanya gangguan pada proses penghayatan dan pengamalan nilai-nilai tersebut dalam perilaku seseorang.

Seseorang biasanya menghayati nilai-nilai dan norma-norma dari beberapa orang yang cocok dengan dirinya saja. Akibatnya, jika ia banyak menghayati nilai-nilai atau norma yang tidak berlaku secara umum, ia cenderung berperilaku menyimpang. Terlebih jika sebagian besar teman-teman di sekelilingnya adalah orang yang memiliki perilaku menyimpang, kecenderungan besar orang itu akan menyimpang pula. Perilaku seseorang akan menyimpang jika kadar penyimpangannya lebih besar daripada kadar perilakunya yang wajar atau bersifat umum dan diterima masyarakat. Contohnya, jika seorang siswa bergaul dengan orang-orang yang berperilaku menyimpang seperti pecandu narkoba, lambat laun ia akan mempelajari nilai-nilai dan norma itu, kemudian diserap dan dihayati dalam kepribadiannya yang akan berakhir dengan melakukan perbuatan tersebut.

2) Perilaku Menyimpang Karena Anomi (Anomie)

Menurut Durkheim (1897), anomi adalah suatu situasi tanpa norma dan tanpa arah sehingga tidak tercipta keselarasan antara kenyataan yang diharapkan dan kenyataan sosial yang ada. Teori ini menyatakan bahwa penyimpangan terjadi apabila dalam suatu masyarakat terdapat sejumlah kebudayaan khusus (etnik, agama, kebangsaan, kedaerahan, dan kelas sosial) yang dapat mengurangi kemungkinan timbulnya kesepakatan nilai (value consensus). Dengan kata lain, anomi menggambarkan sebuah masyarakat yang memiliki banyak norma dan nilai, tetapi antara norma dan nilai yang satu dan yang lainnya bertentangan. Akibatnya, timbul keadaan tidak adanya seperangkat nilai atau norma yang dapat dipatuhi secara konsisten dan diterima secara luas. Masyarakat seperti itu tidak mempunyai pegangan yang mantap sebagai pedoman nilai dan menentukan arah perilaku masyarakat yang teratur.

Robert K. Merton menganggap anomi disebabkan adanya ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan. Perilaku menyimpang akan meluas jika banyak orang yang semula menempuh cara-cara pencapaian tujuan dengan wajar kemudian beralih pada cara-cara yang menyimpang. Teori ini sangat cocok untuk menganalisis banyaknya perilaku menyimpang, seperti KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang sudah dinyatakan menjadi budaya di Indonesia. Untuk hal itu, terdapat lima cara pencapaian tujuan mulai cara yang wajar sampai menyimpang, yaitu sebagai berikut.

a) Konformitas, yaitu sikap menerima suatu tujuan budaya yang konvensional dengan cara yang selama ini biasa dilakukan (tradisional).

b) Inovasi, yaitu sikap seseorang untuk menerima secara kritis caracara pencapaian tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya sambil menempuh cara baru yang belum biasa dilakukan. Dalam inovasi upaya pencapaian tujuan tidak dilakukan dengan cara yang konvensional dan dilarang. Contohnya, seorang guru mengajar dengan cara yang membuat kelas ribut. Meskipun tadinya dianggap mengganggu, cara itu berhasil meningkatkan semangat siswa belajar.

c) Ritualisme, yaitu sikap seseorang yang masih menjalankan caracara konvensional, namun melupakan tujuan sebenarnya dari suatu kebudayaan tersebut. Cara-cara kebiasaan tetap dilakukan, tetapi fungsi dan maknanya sudah hilang dan orang yang melakukannya sekadar memenuhi kewajiban. Contohnya, banyak siswa yang tertib mengikuti upacara bendera hanya sekadar untuk ikut peraturan sekolah dan bukan untuk semangat nasionalisme.

d) Pengasingan, yaitu sikap seseorang menolak, baik tujuantujuan maupun cara-cara mencapai tujuan, yang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat ataupun lingkungan sosialnya. Contohnya, seorang karyawan mengundurkan diri dari perusahaan karena konflik kepentingan pribadi dan kepen tingan perusahaan.

e) Pemberontakan, yaitu sikap seseorang menolak sarana dan tujuan-tujuan yang disahkan oleh budaya masyarakatnya dan menggantinya dengan cara baru. Contohnya, kaum revolusioner yang memperjuangkan suatu ideologi dengan gigih melalui perlawanan bersenjata.

3) Perilaku Menyimpang Karena Hubungan Diferensiasi

Penyimpangan terjadi karena harus mempelajari terlebih dahulu bagaimana caranya menjadi seorang yang menyimpang. Proses belajar ini terjadi akibat interaksi sosial antara seseorang dan orang lain. Derajat interaksi bergantung pada frekuensi, prioritas, dan intensitasnya. Semakin tinggi derajat keempat faktor ini, akan semakin tinggi pula kemungkinan bagi mereka untuk menerapkan tingkah laku yang sama-sama dianggap menyimpang. Contohnya, seseorang yang ingin berprofesi sebagai perampok karena terdesak kebutuhan hidup dan ingin cepat kaya dengan cara yang singkat dan tidak wajar, kemudian ia berusaha mempelajari cara-cara merampok dari teman-temannya yang lebih dahulu menjadi perampok. Setelah mengetahui cara-caranya, ia akan menjadi perampok mengikuti teman-temannya.

4) Perilaku Menyimpang Karena Pemberian Julukan (Labelling)

Perilaku menyimpang lahir karena adanya cap, julukan, atau sebutan atas suatu perbuatan yang disebut menyimpang. Dengan memberikan julukan pada suatu perilaku sebagai perilaku menyimpang, berarti kita menciptakan serangkaian perilaku yang cenderung mendorong orang untuk melakukan penyimpangan. Jadi, jika kita memberi cap terhadap seseorang sebagai orang yang menyimpang, julukan tersebut akan mendorong orang tersebut berperilaku menyimpang.

Teori ini menggambarkan bagaimana suatu perilaku menyimpang seringkali menimbulkan serangkaian peristiwa yang justru mempertegas dan meningkatkan tindakan penyimpangan. Pada kenyataannya dalam keadaan tertentu pemberian julukan mendorong timbulnya penyimpangan berikutnya. Dalam keadaan tertentu lainnya, pemberian julukan akan mendorong kembalinya orang yang menyimpang ke perilaku yang normal.

Contohnya, seorang siswa yang tertangkap basah menyontek ketika ujian, kemudian semua siswa di kelas itu memberi julukan pada dirinya “si tukang nyontek”, padahal ia baru sekali melakukan perbuatan itu. Oleh karena sudah diberi julukan demikian, siswa tersebut akan mempunyai kecenderungan melakukan perilaku itu terusmenerus karena sebagian besar siswa sudah berpandangan negatif terhadap dirinya.

b. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Biologi

Sebagian besar ilmuwan abad ke-19 berpandangan bahwa kebanyakan perilaku menyimpang disebabkan oleh faktor-faktor biologis, seperti tipe sel-sel tubuh. Salah satunya adalah pandangan dari seorang ahli bernama Caesare Lombroso. Ia berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi yang panjang, adanya kelainan pada mata yang khas, jari-jari kaki dan tangan relatif besar, serta susunan gigi yang tidak normal. Adanya pandangan dari sudut biologi ini telah menimbulkan keraguan dari para ahli ilmu sosial. Meskipun ditunjang oleh berbagai bukti empiris, para kritikus menemukan sejumlah kesalahan metode penelitian sehingga menimbulkan keraguan terhadap kebenaran teori tersebut. Para ilmuwan lainnya menganggap faktor biologis sebagai faktor yang secara relatif tidak penting pengaruhnya terhadap penyimpangan perilaku.

c. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Psikologi

Teori ini berpandangan bahwa penyakit mental dan gangguan kepribadian berkaitan erat dengan beberapa bentuk perilaku menyimpang karena perilaku menyimpang seringkali dianggap sebagai suatu gejala penyakit mental. Namun, teori psikologis tidak dapat memberikan banyak bantuan untuk menjelaskan penyebab perilaku menyimpang.

Ilmuwan yang terkenal di bidang ini ialah Sigmund Freud. Dia membagi diri manusia menjadi tiga bagian penting sebagai berikut.

1) Id, bagian diri yang bersifat tidak sadar, naluriah dan impulsif (mudah terpengaruh oleh gerak hati).

2) Ego, bagian diri yang bersifat sadar dan rasional (penjaga pintu kepribadian).

3) Superego, bagian diri yang telah menyerap nilai-nilai kultural dan berfungsi sebagai suara hati.

Menurut Freud, perilaku menyimpang terjadi apabila id yang berlebihan (tidak terkontrol) muncul bersamaan dengan superego yang tidak aktif, sementara dalam waktu yang sama ego yang seharusnya dominan, tidak berhasil memberikan perimbangan.

d. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Kriminologi

Dalam hal ini perilaku menyimpang dapat dilihat dari Teori Konflik dan Teori Pengendalian. Dalam teori ini terdapat dua macam konflik, yaitu sebagai berikut.

d. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Kriminologi

Dalam hal ini perilaku menyimpang dapat dilihat dari Teori Konflik dan Teori Pengendalian. Dalam teori ini terdapat dua macam konflik, yaitu sebagai berikut.

1) Konflik budaya terjadi apabila dalam suatu masyarakat terdapat sejumlah kebudayaan khusus yang masing-masing cenderung tertutup sehingga mengurangi kemungkinan timbulnya kesepakatan nilai. Setiap kelompok menjadikan norma budayanya sebagai peraturan resmi. Akibatnya, orang yang menganut budaya berbeda dianggap sebagai penyimpang. Berbagai norma yang saling bertentangan yang bersumber dari kebudayaan khusus yang berbeda itu akan menciptakan kondisi anomi. Pada masyarakat seperti ini, kelas rendah harus bertentangan (berkonflik) dengan kelas menengah hanya karena mereka dipaksa meninggalkan kebudayaan yang telah mereka anut sebelumnya.

2) Konflik kelas sosial terjadi akibat suatu kelompok menciptakan peraturan sendiri untuk melindungi kepentingannya. Pada kondisi ini terjadi eksploitasi kelas atas terhadap kelas bawah. Mereka yang menentang hak-hak istimewa kelas atas dianggap mem punyai perilaku menyimpang sehingga dicap sebagai penjahat.

Dilihat dari teori pengendalian, kebanyakan orang menyesuaikan diri dengan nilai dominan karena adanya pengen dalian dari dalam ataupun dari luar. Pengendalian dari dalam berupa norma yang dihayati dan nilai yang dipelajari seseorang. Pengendalian dari luar berupaya imbalan sosial terhadap konformitas (tindakan mengikuti warna) dan sanksi hukuman terhadap tindakan penyimpangan. Dalam masyarakat konvensional, terdapat empat hal yang mengikat individu terhadap norma masya rakatnya, yaitu:

1) kepercayaan, mengacu pada norma yang dihayati.

2) ketanggapan, yakni sikap tanggap seseorang terhadap pendapat orang lain, berupa sejauh mana kepekaan seseorang terhadap kadar penerimaan orang konformis;

3) keterikatan (komitmen), berhubungan dengan berapa banyak imbalan yang diterima seseorang atas perilakunya yang konformis.

4) keterlibatan, mengacu pada kegiatan seseorang dalam berbagai lembaga masyarakat, seperti sekolah, dan organisasi-organisasi setempat.

Semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang akan salah satu pengikat tersebut, semakin kecil pula kemungkinan baginya untuk melakukan penyimpangan.

4. Perilaku dan Subkebudayaan Menyimpang

Pergaulan yang dilakukan seseorang yang sedang tumbuh dewasa umumnya tidak lepas dari peniruan (imitasi) terhadap orang lain yang dijadikan idolanya. Akan tetapi, peniruan ini kadangkala bersifat negatif. Hal yang ditiru adalah budaya Barat, seperti dari Eropa atau Amerika yang dianggapnya mewakili dunia modern. Hal ini disebut westernisasi.

Berperilaku seperti mereka akan merasa dirinya modern. Padahal tidak demikian karena yang ditiru mereka bukan ilmu pengetahuan atau keterampilan, melainkan pola, sikap, perilaku, kebiasaan dan lain-lain yang biasa dilihat dari televisi, film di bioskop atau gaya kelompok pemain musik yang menjadi panutannya.

Westernisasi di dalamnya terdapat kata west yang berarti ‘barat’, bukan berarti mengambil kebudayaan dari Barat berupa ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa berperilaku seperti orang Barat, melainkan berperilaku dan bertindak seperti orang Barat yang dianggapnya modern dengan melupakan budaya sendiri. Westernisasi berarti peniruan seperti orang Barat, misalnya:

a. meniru secara berlebihan gaya pakaian (mode) yang selalu mengalami perubahan dengan cepat;

b. meniru gaya bicara dan adat sopan santun pergaulan Barat;

c. sikap merendahkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan mencampur adukan istilah dan ungkapan orang Barat ke dalam bahasa Indonesia walaupun lawan yang diajak bicara tidak memahaminya. Begitu pula dalam menegur orang lain yang ditemuinya, seperti hallo, okey, Dad, atau bye.

d. meniru pesta-pesta yang dilakukan orang Barat, seperti pesta ulang tahun, pesta malam tahun baru yang disertai dengan minum-minuman keras;

e. tidak melewatkan pergi ke disko untuk setiap saat di malam minggu atau malam liburan; f. wanita yang bertemu teman dekat lelakinya yang telah lama tidak jumpa melakukan cium pipi kanan dan cium pipi kiri.

Usaha mengadopsi gaya hidup kebarat-baratan seperti itulah yang disebut westernisasi.

5. Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang

Manusia selain merupakan makhluk sosial dan makhluk yang berpikir, juga memiliki pola-pola perilaku yang tidak tetap. Adakalanya manusia berperilaku sesuai dengan kehendak umum, tetapi di lain kesempatan tindakannya bertentangan dengan kehendak umum. Oleh karena itu, menurut Lemert (1951) terdapat dua konsep perilaku menyimpang, yaitu:

a. Penyimpangan Primer

Penyimpangan primer atau deviation primary adalah penyimpangan yang bersifat sementara (temporer) atau perbuatan menyimpang yang pertama kali dilakukan seseorang yang pada aspek kehidupan lainnya selalu berlaku konformis (mematuhi norma yang berlaku). Orang yang melakukan penyimpangan primer masih tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya karena tidak secara terus-menerus melanggar norma-norma umum dan penyimpangannya kecil sehingga mudah dimaafkan. Lemert mengatakan bahwa perilaku menyimpang akan tetap bersifat primer sejauh perbuatan itu dianggap sebagai fungsi sosial yang dapat diterima. Contohnya, pelanggaran rambu-rambu lalu lintas, anak perempuan yang tomboy (berperilaku kelaki-lakian).

b. Penyimpangan Sekunder

Penyimpangan sekunder atau deviation secondary adalah penyimpangan sosial yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sanksi telah diberikan kepadanya Oleh karena itu, para pelakunya secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Misalnya, pembunuhan, pemerkosaan, pecandu narkotika, ter masuk juga perilaku siswa yang selalu menyontek pekerjaan teman sekelasnya. Seseorang yang dikategorikan berperilaku menyimpang sekunder tidak diinginkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat (dibenci).

Seseorang yang melakukan penyimpangan primer masih dapat memiliki peran dan status dalam kelompoknya dan masih bisa melakukan jaringan hubungan dengan yang lainnya. Akan tetapi sebaliknya, terhadap orang yang telah melakukan penyimpangan sekunder, masyarakat cenderung mengucilkan atau menyingkirkan dari kehidupan kelompoknya dan dicap sebagai “kriminal.”

Adapun berdasarkan jumlah individu yang terlibat, perilaku menyimpang dibedakan atas penyimpangan individu dan penyimpangan kelompok, yakni sebagai berikut.

1) Penyimpangan Individu

Penyimpangan ini adalah penyimpangan yang dilakukan sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Hanya satu individu yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku. Perilaku seperti ini secara nyata menolak norma-norma yang telah diterima secara umum dan berlaku dalam waktu yang relatif lama (mapan).

2) Penyimpangan Kelompok

Penyimpangan kelompok dilakukan oleh sekelompok orang yang patuh pada norma kelompoknya. Padahal norma tersebut jelas-jelas bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang kelompok ini agak rumit sebab kelompok-kelompok tersebut mempunyai nilai-nilai, normanorma, sikap, dan tradisi sendiri. Fanatisme anggota terhadap kelompoknya menyebabkan mereka merasa tidak melakukan perilaku menyimpang. Kejadian seperti inilah yang menyebabkan penyimpangan kelompok lebih berbahaya jika dibandingkan dengan penyimpangan individu. Contohnya, sindikat perdagangan narkoba, teroris, kejahatan terorganisasi yang melakukan penye lundupan dan perampokan, serta kelompok separatis.

6. Sifat-Sifat Penyimpangan

Berdasarkan uraian sebelumnya, dikatakan bahwa perilaku menyimpang tidak selamanya berakibat tidak baik. Dengan demikian, dilihat dari sifatnya penyimpangan dibedakan atas sebagai berikut.

a. Penyimpangan Positif

Penyimpangan ini adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku atau perilaku seseorang di luar kebiasaan masyarakat, namun pada akhirnya membawa dampak positif terhadap kehidupan masyarakat. Dalam artian, perilaku menyimpangnya dapat diterima dan tidak merugikan masyarakat. Contohnya, dalam tatanan sosial masyarakat, peran seorang ibu adalah mengurus rumah tangga. Akan tetapi, karena penghasilan dari suaminya kurang mencukupi, si ibu bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Apa yang dilakukan si ibu adalah menyimpang positif. Contoh lainnya, anak yang gemar membaca menghabiskan hari-harinya untuk membaca atau belajar. Hal ini adalah perilaku tidak umum, namun bersifat positif.

b. Penyimpangan Negatif

Penyimpangan ini adalah perbuatan yang memang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dan berakibat buruk, serta mengganggu sistem sosial. Perilaku ini berkaitan erat dengan tindakan kejahatan. Dalam pengertian sehari-hari, apabila ada istilah perilaku menyimpang, yang dimaksud adalah penyimpangan negatif ini. Seseorang yang berperilaku menyimpang negatif akan dikucilkan masyarakat dan mendapatkan sanksi sesuai perbuatannya. Contohnya pembunuhan, pemerkosaan, dan pencurian.

7. Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang

Bentuk-bentuk penyimpangan yang umumnya terjadi dalam kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan remaja antara lain sebagai berikut.

a. Penyalahgunaan Narkotika

Narkotika bukan merupakan bahan yang tidak boleh diperjualbelikan, tetapi harus dengan pengawasan ketat. Narkotika adalah bahan atau zat pembius yang umumnya digunakan dalam bidang kedokteran, terutama digunakan untuk pasien yang akan dioperasi. Hal ini agar rasa sakit saat menjalani operasi tidak dirasakan oleh pasien. Dengan demikian, narkotika hanya boleh digunakan dalam bidang kedokteran saja. Narkotik adalah semua obat yang mempunyai efek kerja bersifat membiuskan, menurunkan kesadaran (depresant), merangsang meningkatkan prestasi (stimulans), menagihkan ketergantungan (dependence), dan mengkhayalkan (halusinasi).

Jika narkotik digunakan tanpa resep dokter, akan menyebabkan kerusakan susunan saraf si pengguna. Akibatnya, si pemakai akan ketagihan dan tidak dapat dihentikan. Apabila si pengguna narkotik tidak dapat lagi membelinya karena kehabisan uang, ia akan berusaha mendapatkan uang untuk membeli narkotik dengan menghalalkan segala cara. Bahkan, ia dapat melalui tindakan melanggar hukum sehingga akan mengganggu ketenangan masyarakat, seperti penodongan, pen jambretan, pencopetan, atau perampokan. Pengguna narkotik disebut morfinis, yaitu seorang yang memakai obat atau morphin dengan jalan diisap atau ditelan. Seandainya pemakai obat ini dihentikan tiba-tiba, akan timbul gejala abstinensi, seperti keluar ingus, air mata, keringatan, kulit kesakitan, tidak bisa tidur, tekanan darah naik, lesu seperti putus asa, seperti orang sakit badan, badan dilukai karena kesal, kejang-kejang, atau muntah.

Narkotik jenis pil atau kapsul banyak diperjualbelikan oleh orang yang tidak bertanggung jawab kepada anak sekolah, khususnya para remaja, sehingga tidak sedikit dari mereka menjadi pengguna. Hal ini mengakibatkan rusaknya masa depan mereka dan secara tidak langsung akan merusak masa depan bangsa dan negara.

Proses berpikir secara sehat tidak lagi ia miliki. Oleh karena itu, negara sedang berusaha melakukan pengawasan terhadap obatobatan yang termasuk daftar G (mengandung narkotik), yang hanya didapat melalui resep dokter, agar masa depan para pemuda bangsa dapat terselamatkan.

b. Perkelahian Pelajar

Perilaku Menyimpang - Polisi Memberikan Pengarahan Pada Pelajar Yang Terlibat Tawuran

Perilaku Menyimpang – Polisi Memberikan Pengarahan Pada Pelajar Yang Terlibat Tawuran

Perkelahian antarpelajar dapat bermula dari hal-hal yang sepele, seperti pertandingan olahraga antarsekolah, pelajar putra mengganggu pelajar putri dari sekolah lain, dan merasa tersinggung oleh perilaku pelajar dari sekolah lain.

Perkelahian antarpelajar ini umumnya terjadi pada sekolah yang berbeda, kemudian ditunjang oleh solidaritas sosial yang salah. Pengelompokan antarteman sepermainan dan antarsahabat yang lebih luas, akan menimbulkan rasa kuat dan rasa setia kawan yang tinggi. Apabila di antara mereka ada yang merasa tersinggung atau merasa disepelekan oleh pelajar dari sekolah lain, mereka akan lapor pada kelompoknya untuk membantu menyelesaikan masalah. Tadinya masalah tersebut bersifat pribadi, kemudian berkembang menjadi masalah kelompok. Penyelesainnya bukan dilakukan secara musyawarah, melainkan dengan perkelahian. Jika perkelahian ini diketahui oleh yang berwajib atau oleh guru-guru mereka, biasanya hanya diselesaikan sesaat saja. Akibatnya, satu sama lain tidak puas dengan hasil yang dicapai walaupun mereka sudah diberi pengertian dan diadakan kesepakatan. Oleh karena itu, penyelesainya dilanjutkan sendiri di luar sekolah.

Perkelahian antarpelajar akan meresahkan masyarakat karena pelajar yang tidak terlibat dalam kasus awal akan merasa dirugikan begitu pula halnya dengan orangtua mereka yang khawatir akan keselamatan putra-putrinya. Akibat dari perkelahian pelajar ini, selain kerugian di kedua belah pihak, juga jatuhnya korban yang meninggal dunia. Selain yang menang harus berurusan dengan yang berwajib, yang kalah harus masuk rumah sakit (atau meninggal). Oleh karena itu, kegiatan belajar akan terganggu atau terhambat sehingga keseriusan belajar menjadi berkurang, pergi ke sekolah takut diancam, atau pendidikan terhambat.

c. Perilaku Seksual di Luar Nikah

Perilaku seksual di luar nikah terjadi sebagai akibat keinginan yang muncul dari setiap remaja yang belum masanya, akibat rangsangan dari buku bacaan porno, film yang tidak layak ditonton, atau kebebasan bergaul antara dua pemuda yang berlainan jenis. Hal ini dapat disebabkan adanya dorongan dari luar untuk munculnya rangsangan yang tidak dikehendaki, seperti:

1) imitasi terhadap pola kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial bangsa sendiri;

2) longgarnya pengawasan sosial dari orangtua atau masyarakat terhadap bacaan atau film-film cabul.

3) adanya orang yang tidak bertanggung jawab dengan sengajamemperjualbelikan barang-barang yang bersifat cabul kepadaseseorang karena keuntungan bersifat materil semata.

Masalah hubungan seksual pranikah pada para remaja sangat menghawatirkan. Hubungan terjadi karena pemahaman yang salah atas modernisasi, kebebasan, dan hak individual. Hubungan seksual pranikah tidak dapat dibenarkan dalam norma etika, susila, terlebih lagi pada norma agama. Jika perilaku seksual di luar nikah dilakukan oleh pelajar, akan terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki atau memiliki anak pada usia muda. Akibatnya, pendidikannya akan terhambat sehingga peluang untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi hampir tidak ada.

Perilaku ini sangat berpengaruh pada masyarakat karenanya masyarakat merasa terganggu. Hal ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, juga menjadi masalah di kota kecil. Dengan demikian, diperlukan adanya penertiban terhadap barang-barang yang berbau cabul yang tersebar di masyarakat.

d. Penggunaan Alkohol

Minuman yang mengandung alkohol dengan kadar tertentu dapat menyebabkan orang yang meminumnya mabuk. Akan tetapi, bukan berarti minuman tersebut dilarang dijual di pasaran, melainkan akibat yang ditimbulkan setelah seseorang meminumnya. Jika perbuatan meminum minuman keras dapat mengganggu keteraturan masyarakat, dapat dikatakan sebagai masalah sosial, hal demikian dianggap sebagai penyimpangan. Persoalan utama terhadap minuman yang mengandung alkohol adalah siapa yang boleh menggunakannya, di mana, bila mana, dan dalam kondisi yang bagaimana.

Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa minuman beralkohol adalah hal yang biasa dan diminum oleh orang tertentu, tetapi sekarang ini banyak minuman beralkohol tinggi dijual bebas. Akibatnya, banyak pemuda yang menggunakannya agar dalam dirinya timbul rasa percaya diri, keberanian, dan tidak ketinggalan zaman. Alkohol merupakan racun protoplasmik yang mempunyai pengaruh menekan sistem saraf sehingga pada orang yang mabuk, kemampuan sosial, fisik, dan psikologisnya akan berkurang.

Mereka yang senang dan biasa melakukan minum minuman beralkohol terutama dengan kadar yang tinggi, biasanya dijauhi dalam pergaulan hidup bermasyarakat, karena setiap pelanggaran atau penyimpangan yang meresahkan masyarakat berasal dari kelompok mereka. Karena itu perlu pengawasan yang ketat terhadap minuman yang memiliki kadar alkohol memabukkan, baik bagi penjual maupun pembelinya.

Penyimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat tidak akan begitu saja muncul apabila tidak ada faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor penarik terjadinya penyimpangan, berada di luar diri seseorang untuk melakukan penyimpangan, sedangkan faktor pendorong berada di dalam diri seseorang atau keluarga yang memungkinkan seseorang untuk melakukan penyimpangan tersebut.

Penyimpangan-penyimpangan tersebut pada umumnya terjadi akibat sosialisasi yang tidak sempurna, baik pergaulan di masyarakat maupun kehidupan di rumah yang dianggapnya tidak memuaskan. Hal ini dapat terjadi akibat kurangnya pengawasan dari orangtua sehingga anak mencari pelarian ke luar dengan mencari teman yang dapat memberikan perlindungan dan pengakuan akan keberadaan dirinya. Kemudian bergabung dengan kelompok yang sering melakukan penyimpangan. Akibatnya, anak tersebut menjadi korban pergaulan karena merasa dirinya menjadi orang dewasa modern yang tidak ketinggalan zaman. Korban akibat pergaulan ini umumnya para remaja yang sedang mencari identitas diri melalui sosialisasi atau pembentukan pribadi yang salah jalan.

Pada penyimpangan yang dilakukan melalui penggunaan narkotik atau minuman keras, misalnya seseorang tidak langsung melakukannya. Akan tetapi, diajak oleh teman sekelompoknya untuk mencoba atau mencicipinya terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa mereka telah menjadi orang dewasa modern yang tidak ketinggalan zaman. Lama kelamaan seseorang mendapat pengakuan di kelompoknya dan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Perbuatan yang menyimpang akhirnya dilakukannya sendiri sehingga menjadikan kebiasaan. Begitu pula jika memiliki masalah pribadi, penyelesaiannya tidak lepas dari narkotik dan minuman keras yang dianggapnya dapat menolong untuk melepaskan diri dari masalah yang dihadapi.

Setiap remaja yang sedang tumbuh memerlukan perhatian dan tuntunan dari orangtua, saudara, atau kerabatnya. Jika mereka tidak memperolehnya, akan muncul ketidakpuasan, kemudian mencari penyeselesaiannya sendiri. Dengan demikian, orangtua turut bertanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anaknya. Jika tidak bertanggung jawab, orangtua akan mereka salahkan, seperti contoh berikut ini.

a. Orangtua terlalu kolot atau terlalu bebas.

b. Orangtua hanya memberikan nasihat, tanpa memberikan teladan yang mendukung nasihatnya.

c. Orangtua mengutamakan pemenuhan kebutuhan material (kebendaan) belaka.

d. Orangtua terlalu mementingkan pekerjaan kantor, organisasi, dan pekerjaan lain yang menyebabkan mereka jarang berada di rumah.

e. Orangtua umumnya terlalu menekankan keinginannya sehingga tidak mau menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar anaknya yang mungkin berbeda.

f. Orangtua mungkin kurang mencurahkan kasih sayang.

Dengan demikian, untuk mencegah remaja termasuk ke dalam kelompok yang menyimpang, hal-hal tersebut harus diperhatikan karena menyangkut masa depan keturunannya. Oleh karena itu, orangtua harus dapat mengawasi anak-anaknya terutama yang sedang menginjak remaja melalui:

a. teman sepermainannya harus dikenal dan diketahui alamatnya;

b. jangan dibiasakan anak pulang terlalu malam atau dibiasakan anak menginap di rumah temannya;

c. orangtua senantiasa memeriksa kamar anaknya atau tas yang biasa dipakai ke sekolah;

d. memberi dukungan positif terhadap kegemaran anaknya, terutama yang berhubungan dengan seni dan olahraga;

e. mengajak berbicara dan berdiskusi apabila anaknya memiliki masalah, baik berhubungan dengan pelajaran di sekolah maupun masalah pergaulan dengan teman-temannya;

f. memberikan pengertian terhadap kebutuhan anaknya, baik kebutuhan sekolah maupun kebutuhan akan perlengkapan pribadinya;

g. memberikan nasihat apabila anak berbuat kesalahan;

h. memberikan petunjuk untuk tidak mengikuti atau melakukan perbuatan menyimpang dan dianggap salah karena tidak sesuai dengan norma masyarakat ataupun norma agama;

i. mengajak anaknya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan.

Adanya perlakuan khusus terhadap remaja bukan berarti mengekang mereka terhadap lingkungan sosialnya, melainkan memberikan dukungan terhadap hal-hal positif yang biasa dilakukan, dengan tujuan agar remaja dapat menyosialisasikan dirinya yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Remaja tidak diberi kebebasan sepenuhnya dalam memilih lingkungannya, juga tidak dikekang, tetapi selalu diawasi agar dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk sehingga remaja dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab orangtua, pendidik, dan masyarakat dalam membina remaja agar menjadi manusia yang berguna.

B Sikap-Sikap Antisosial

Semua orang lahir sebagai manusia yang hidup di tengahtengah pergaulan manusia. Namun, orang juga tidak mengenal secara terperinci karakter manusia itu. Manusia memang memiliki perbedaan dengan makhluk lainnya. Akan tetapi, ia hidup di tengahtengah manusia lain (lingkungan sosial) dalam konteks budaya (lingkungan budaya) dan alam semesta (lingkungan alam). Selain memiliki sifat-sifat yang berbeda, juga memiliki hal-hal yang sama selaku manusia, makhluk hidup, bagian dari alam, serta sebagai ciptaan Tuhan.

Uraian tersebut menerangkan bahwa makhluk yang bernama manusia merupakan makhluk pribadi yang harus mengembangkan diri dan kepribadiannya agar mampu bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan manusia lain dalam kehidupan bermasyarakat sebagai makhluk sosial. Dengan demikian, pada hakikatnya manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari manusia lain.

Ada pernyataan yang mengungkapkan bahwa “manusia baru dapat dikatakan sebagai manusia yang sebenarnya, apabila ada dalam masyarakat.” Sepanjang hayat dikandung badan, orang tidak akan lepas dari masyarakat, bergaul (sosialisasi), mencari nafkah, serta menerima pengaruh dari lingkungan sosial yang disebut masyarakat. Seseorang akan mengenal orang lain, dan paling utama mengenal diri sendiri selaku anggota masyarakat.

Kepentingan yang melekat pada diri seseorang (sebagai pribadi) menjadi dasar interaksi sosial yang mewujudkan masyarakat sebagai wadahnya. Itulah hakikat manusia sebagai makhluk sosial atau dikenal dengan istilah homo socius. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki dan mampu menumbuhkembangkan serta memelihara nilai-nilai yang mencirikan kemanusiaannya. Walaupun secara fisik ia sebagai makhluk manusia, apabila ia tidak memiliki atau tidak mampu menumbuh kembangkan dan memelihara nilai-nilai yang mencirikan kemanusiaannya, dapat dikatakan sebagai manusia yang antikemanusiaan atau disebut juga dengan antisosial.

Sosial (socius) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “mengenai kemanusiaan.” Dengan demikian, secara sederhana antisosial dapat dikatakan sebagai antikemanusiaan. Ciri-ciri manusia adalah suka bergaul di tengah-tengah manusia lain untuk saling berinteraksi dan bersosialisasi, mulai lingkungan yang terdekat seperti keluarga sampai lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat umum. Segala tindakan dan perilakunya ditujukan untuk bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia lain. Apabila tindakan dan perilakunya tersebut tidak sesuai dengan nilai dan norma yang tumbuh dan berlaku di masyarakat, dapat dikatakan sebagai sikap-sikap antisosial.

Walaupun demikian, dalam mengartikan sikap antisosial tidak boleh secara harfiah yang berarti sikap-sikap yang menentang atau memusuhi sifat-sifat kemanusiaan karena pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin dipisahkan dari manusia lainnya. Adapun sikap-sikap antisosial yang muncul pada manusia hanya bersifat insidental yang dihadapkan pada situasi dan kondisi tertentu, seperti halnya yang terjadi pada perilaku menyimpang.

Apabila diartikan secara harfiah, sikap antisosial lebih mengarah kepada arti manusia yang bersifat makro yaitu animal kingdom. Dalam hal ini, manusia diartikan sebagai binatang yang tidak memiliki sifatsifat kemanusiaan. Adapun antara manusia dan makhluk lainnya (binatang) terdapat batas yang membeda kan, yaitu manusia diberikan kemampuan akal untuk berpikir yang melahirkan kebudayaan. Dengan budayanya inilah, makhluk manusia memisahkan diri dari kelompok binatang yang tidak memiliki kemampuan akal untuk berpikir.

Sikap antisosial yang dimaksud dalam sosiologi lebih mengarah pada kontradiktif atau menentang kepada aturan-aturan atau norma-norma yang sedang berlaku di masyarakat. Apabila aturanaturan atau norma-norma tersebut telah tersosialisasikan dalam diri manusia, ia tidak akan bersifat antisosial. Agar Anda lebih memahami, sebaiknya mengartikan sikap antisosial sebagai bagian dari perilaku yang menyimpang.

Beberapa perilaku menyimpang yang sudah dipelajari sebelumnya dapat dikatakan sebagai contoh sikap-sikap antisosial. Hal ini disebabkan tindakan dan perilakunya tidak sesuai dengan harapan dan kebiasaan yang ada di masyarakat. Nilai-nilai dan norma yang terdapat dalam masyarakat merupakan ciri kemapanan manusia yang menginginkan keteraturan dalam hidupnya. Adapun orang-orang yang antisosial berarti sebaliknya, yaitu tidak menginginkan kemapanan tersebut. Dengan demikian, segala sikap dan perilakunya selalu bertentangan dan melanggar nilai-nilai dan norma. Contohnya suka memicu atau membuat keributan, berbuat sewenang-wenang, individualis, dan termasuk kejahatan-kejahatan kriminal, seperti pembunuhan. Mengapa pembunuhan dikategorikan sebagai sikap antisosial? Hal ini disebabkan manusia memiliki hak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Manusia yang me lakukan pembunuhan ataupun menganiaya orang lain berarti tidak menyukai kehidupan.

Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang terlahir dan menginginkan sikap-sikap antisosial. Sejak dari rahim dan dilahirkannya manusia sudah melalui manusia lain, dalam hal ini ibunya. Kemudian tumbuh dan berkembang melalui interaksi dan sosialisasi dengan keluarganya, teman sebaya, sampai masyarakat yang lebih luas. Munculnya sikap-sikap antisosial sebagaimana perilaku yang menyimpang merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Dalam pelajaran terdahulu, nilai dan norma adalah suatu pedoman untuk mengatur perilaku manusia. Dalam internalisasi nilai dan norma ini terjadi proses sosialisasi dalam diri seseorang. Ada seseorang yang mampu melakukan proses sosialisasi dengan baik dan ada pula yang tidak dapat melakukan proses sosialisasi dengan baik.

Dengan kata lain, sikap-sikap antisosial merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak baik atau tidak dapat melakukan proses sosialisasi. Secara sederhana, ia tidak bisa bergaul dengan orang lain atau masyarakat. Oleh karena itu, ia tidak bisa mengenal diri dan kepribadiannya karena masyarakat merupakan wadah bagi manusia untuk mengenal dirinya. Terlebih lagi, ia juga tidak bisa mengenal masyarakatnya serta nilai-nilai dan norma-norma yang tumbuh dan berlaku. Akibatnya, sikap dan perilakunya cenderung tidak sesuai atau bertentangan.

Sikap antisosial merupakan cerminan dari ketidakpuasan individu dan masyarakat terhadap kondisi sosialnya. Kondisi sosial timbul ketika sebuah sistem yang ditentukan tidak sesuai dengan aspirasi dan representasi masyarakat. Misalnya, kecenderungan yang terjadi pada masa Orde Baru, yang pada masa itu masyarakat hidup dalam kekuasaan yang otoriter.

Rangkuman

• Perilaku menyimpang merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna.

• Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

• Macam-macam perilaku menyimpang dalam sosialisasi, yaitu:

1. perilaku menyimpang karena sosialisasi;

2. perilaku menyimpang karena anomi;

3. perilaku menyimpang karena hubungan diferensiasi;

4. perilaku menyimpang karena pemberian julukan.

• Konsep perilaku menyimpang

1. Penyimpangan primer

2. Penyimpangan sekunder

• Sikap antisosial adalah sikap yang mengarah pada kontradiktif atau menentang kepada aturan-aturan atau norma-norma yang sedang berlaku di masyarakat.


Easy English Lessons Online
Marketing Business Online
Bilingual English