Tag Archives: media sosialisasi

Sosialisasi

Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses penyesuaian diri seseorang untuk hidup bermasyarakat.

Setiap manusia dalam kehidupannya selalu belajar dan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini terjadi karena manusia merupakan makhluk yang aktif untuk bertindak. Kecerdasan yang dimiliki manusia menjadikan ia harus berpikir bagaimana untuk dapat hidup dalam masyarakat.

Pengertian Sosialisasi

Konsep tentang sosialisasi itu sendiri tentunya sudah dapat Anda pahami melalui uraian singkat sebelumnya. Untuk lebih memahaminya, berikut ini dikemukakan beberapa definisi sosialisasi dari beberapa ahli.

a. Edward Shils (1968)

Sosialisasi merupakan proses sosial yang dijalankan seseorang atau proses sepanjang umur yang perlu dilalui seseorang individu untuk menjadi seorang anggota kelompok dan masyarakatnya melalui pembelajaran kebudayaan dari kelompok dan masyarakat tersebut.

b. Berger (1978)

Sosialisasi adalah proses seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.

c. Horton dan Hunt (1987)

Sosialisasi adalah suatu proses seseorang menghayati (internalize) norma-norma kelompok tempat ia hidup sehingga timbullah diri yang unik.

d. Nursal Luth

Sosialisasi adalah suatu proses ketika individu menerima dan menyesuaikan diri dengan masyarakatnya. Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sosialisasi merupakan suatu proses bagaimana seorang individu belajar menghayati berbagai macam nilai, norma, sikap, dan polapola perilaku dalam masyarakatnya sehingga ia dapat menjadi anggota masyarakat yang berpartisipasi. Apa hubungannya antara proses sosialisasi dengan pembentukan kepribadian?

Tentunya dari penjelasan beberapa konsep tersebut tentang sosialisasi, dapat disimpulkan bahwa tujuan sosialisasi adalah:

a. menanamkan nilai dan norma yang ada di masyarakat kepada individu.
b. memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada individu sebagai bekal hidup bermasyarakat.
c. membentuk anggota masyarakat yang penuh dengan pribadi yang utuh sehingga berguna bagi dirinya dan masyarakat.

Tahapan Proses Sosialisasi

Pada proses sosialisasi, terdapat peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Oleh karena itu, para sosiolog sering menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa sosialisasi merupakan proses yang terlahir dari adanya interaksi. Dalam hal ini, Charles H. Cooley menekankan peranan interaksi dalam proses sosialisasi. Menurutnya, konsep diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain atau dikenal dengan istilah looking-glass self. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain terbentuk melalui tiga tahap, yaitu sebagai berikut.

a. Tahap memahami diri kita dari pandangan orang lain.

Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas yang melebihi teman-temanya.

b. Tahap merasakan adanya penilaian dari orang lain.

Dengan pandangan bahwa si anak adalah yang paling hebat, ia merasa orang lain selalu memuji dia dan selalu percaya pada tindakannya.

c. Tahap dampak dari penilaian tersebut terhadap dirinya.

Dari pandangan dan penilaian bahwa ia adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.

Sosialisasi Menurut George Herbert Mead

Adapun menurut George Herbert Mead, sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui beberapa tahapan berikut.

a. Tahap persiapan atau Preparatory stage.

Sejak manusia dilahirkan kemudian tumbuh menjadi seorang anak, ia mulai mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini, anak-anak sudah mulai menirukan hal yang diketahui dari sekelilingnya meskipun belum sempurna. Contohnya, menirukan kata “minum” dengan diucapkan “mimi”. Selain pengucapan yang belum sempurna, anak juga belum memahami makna kata tersebut.

Keluarga Merupakan Tahap Sosialisasi Paling Penting

Keluarga Merupakan Tahap Sosialisasi Paling Penting

Ayah dan Anak-Anaknya Anak sudah mulai menirukan apa yang dilihat dan diketahui dari sekelilingnya.

b. Tahap meniru atau Play stage.

sosialisasi kelompok

Sosialisasi Kelompok

Pada tahap ini, seorang anak mulai menirukan dan mulai terbentuk pemahaman tentang sesuatu yang didapatkan dari sekelilingnya dengan semakin sempurna. Misalnya, ia mulai memahami nama diri dan siapa nama orangtuanya, kakak, dan sebagainya. Pada tahap ini, seorang anak sudah mulai dapat menempatkan diri pada posisi orang lain dan munculnya kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan orang-orang yang jumlahnya banyak. Contohnya, seorang anak, baik laki-laki atau perempuan, ditugaskan membantu ibu dan ayah mem bersihkan rumah dan sebagainya. Pada tahap ini akan dikenalkan dengan nilai dan norma yang ada di rumah.

c. Tahap siap bertindak atau Game stage.

Proses meniru sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain semakin meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama dan bekerja sama dengan teman-temannya. Dengan demikian, lawan berinteraksi semakin bertambah dan kompleks. Pada tahap ini, mulai dipahami dan disadari peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarga.

d. Tahap penerimaan norma kolektif atau Generalized stage.

Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Penempatan dirinya pada posisi masyarakat sudah semakin luas. Sikap toleransi, kerja sama, dan kesadaran akan peraturan dengan masyarakat yang lebih luas sudah semakin mantap. Dengan kata lain, pada tahap ini seseorang telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya. Contohnya, anak yang sedang bermain jual beli dengan teman-temannya. Ia mengetahui apa yang harus dilakukan ketika berperan sebagai pembeli atau penjual. Dalam tahap ini, anak mampu membedakan peran yang harus dijalankan orang lain. Contohnya, anak yang ikut dalam kegiatan karang taruna akan berperan sesuai dengan status keanggotaan. Ia dapat berperan sebagai ketua, sekretaris, bendahara, atau anggota. Peran seorang ketua tentu berbeda dengan peran anggota lainnya. Dalam lingkup organisasi lebih luas, peran ketua pada dasarnya sama saja. Oleh karena itu, ia sudah mampu menjalankan peran orang lain.

Media Sosialisasi

Sebagai suatu proses, sosialisasi tentunya memerlukan media. Media sosialisasi merupakan tempat individu belajar mengenal dan memahami berbagai macam nilai, norma, pola-pola, perilaku sehingga individu tersebut mengenal dunia sosialnya. Jenis-jenis media sosialisasi meliputi keluarga, teman bermain, sekolah, dan media massa. Melalui media inilah kepribadian seseorang dapat terbentuk.

a. Keluarga (Kinship)

Keluarga merupakan unit sosial terkecil atau disebut keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar berbagai pengetahuan, nilai, norma, dan sebagainya, untuk mengenal dunia sekitar dan pola-pola hidup yang berlaku sehari-hari. Keluarga merupakan tempat sosialisasi pertama bagi anak, kepribadiannya sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara dan corak orangtua memberikan pendidikan dan bimbingannya. Dengan kata lain, apa yang terjadi dalam lingkungan keluarga akan diinternalisasi oleh individu yang menjadi anggotanya.

b. Teman Bermain

Teman bermain disebut juga “kelompok sebaya,” terdiri atas tetangga dan teman sekolah. Teman bermain tersebut merupakan tempat sosialisasi yang sangat berpengaruh bagi anak setelah keluarga. Di sini anak mulai belajar berbagai nilai, norma, dan kemampuan-kemampuan baru yang mungkin berbeda dengan hal yang sudah diperolehnya dalam lingkungan keluarga. Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sejajar, seperti hubungan ayah dan ibu, dengan anak, sosialisasi dalam kelompok bermain, anak akan belajar interaksi dengan orang-orang yang sejajar dengan dirinya karena sebaya.

Agar tidak terjadi konflik dengan teman bermain, seorang anak berusaha menyesuaikan diri dengan kepentingan teman-temannya sekaligus menyesuaikan diri dengan nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungan teman bermain tersebut. Anak seusia ini cenderung lebih memihak teman-temannya daripada keluarganya. Oleh karena itu, kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.

c. Sekolah

Sekolah Memiliki Pengaruh Besar Dalam Proses Sosialisasi

Sekolah Memiliki Pengaruh Besar Dalam Proses Sosialisasi

Sekolah merupakan tempat anak bersosialisasi tentang hal-hal baru yang sebelumnya mungkin tidak ia dapatkan dalam keluarga atau teman bermain. Menurut Robert Dreeben, sekolah merupakan lembaga pendidikan formal tempat seseorang akan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di sekolah, seorang siswa diperkenalkan pada norma-norma yang lebih tegas dan nyata sanksinya, misalnya siswa yang melanggar tata tertib sekolah akan dikenakan hukuman.

Di rumah, seorang anak masih mengharapkan bantuan dari orangtuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugasnya harus dilakukan secara mandiri dan penuh rasa tanggung jawab. Peranan anak lebih diarahkan pada bagaimana mencapai prestasinya dan bukan pada jenis kelamin atau status kakak atau adik. Di sekolah, anak akan mendapatkan perlakukan yang sama. Adapun di rumah anak diperlakukan khusus oleh orangtuanya. Dengan demikian, sekolah berfungsi sebagai tempat membentuk seseorang dalam tingkat kedisiplinan yang berbeda. Hal ini tidak terlepas dari kualitas pendidikan yang dan kualitas sumber daya manusia.

d. Media Massa

Berbagai pesan, peristiwa, berita dari media massa mempunyai peranan sangat penting dalam proses transformasi nilai dan normanorma baru kepada masyarakatnya. Apa yang ditonton, didengar, dan dibaca dapat memengaruhi perilaku warga masyarakat ke arah yang bersifat positif atau negatif. Termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat bergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan. Contohnya sebagai berikut.

1) Berita-berita peperangan, film-film yang menampilkan adegan kekerasan atau sadisme diyakini telah banyak memicu pe ningkatan perilaku agresif pada anak-anak yang menontonnya.

2) Adegan-adegan yang berbau pornografi disinyalir telah mengikis moralitas remaja dan peningkatan pergaulan bebas serta perbuatan asusila lainnya.

3) Suguhan iklan produk-produk yang bertebaran di mana-mana telah meningkatkan sikap konsumtif dan gaya hidup masyarakat.

Berbagai media sosialisasi tersebut mungkin memberikan ajaranajaran yang berbeda satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga mungkin berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan yang didapatkan dari teman bermain, sekolah, atau media massa. Misalnya, di sekolah, anak-anak diajarkan untuk tidak merokok, dan menggunakan narkoba, tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari temanteman sebaya atau media massa.

Proses sosialisasi dalam membentuk kepribadian seseorang akan berjalan lancar apabila pesan-pesan atau ajaran-ajaran yang diperoleh dari media sosialisasi tersebut tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalankan oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh media sosialisasi yang berlainan.

Selain media utama tersebut, juga terdapat media sosialisasi lain seperti institusi agama, organisasi, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat persepsi mengenai tindakantindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan.

Jenis-Jenis Sosialisasi

Sosialisasi dapat dilakukan sejak dimulai dari lingkungan yang paling dekat hingga berkembang ke lingkungan sosial yang lebih luas. Tahapan proses sosialisasi tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis sebagai berikut.

a. Sosialisasi Primer (Primary Socialization)

Sosialisasi primer merupakan sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil sampai ia menjadi anggota masyarakat. Sosialisasi primer berlangsung mulai balita, anak-anak, dalam teman sepermainan, dan memasuki masa sekolah. Dalam tahap tersebut, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas. Corak kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh corak kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dan anggota keluarga terdekat, teman-temannya, dan sekolah. Dengan demikian, sosialisasi primer mengacu bukan saja pada masa awal anak mulai menjalani sosialisasi, tetapi lebih dari itu. Alasannya, apapun yang diserap anak di masa tersebut akan menjadi ciri mendasar kepribadian anak setelah dewasa.

b. Sosialisasi Sekunder (Secondary Socialization)

Sosialisasi sekunder merupakan proses sosialisasi kelanjutan dari sosialisasi primer. Proses ini terjadi ketika individu dimasukkan ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Sosialisasi ini diawali dengan istilah “desosialisasi”, dan “resosialisasi.” Dalam proses “desosialisasi”, seseorang mengalami “pencabutan” identitas diri yang lama. Adapun dalam “resosialisasi”, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Misalnya, seorang murid yang sudah lulus sekolah, kemudian memasuki jenjang Perguruan Tinggi.

Menurut Goffman (1961), kedua proses tersebut biasanya berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkungkung, dan diatur secara formal. Institusi total tersebut contohnya lembaga pemasyarakatan, rumah sakit jiwa, atau lembaga pendidikan militer.

Faktor yang Memengaruhi Sosialisasi

Selain diperlukan adanya media, dalam sosialisasi juga terdapat faktor-faktor yang memengaruhinya sebagai berikut.

a. Sifat dasar, merupakan sifat yang diturunkan oleh kedua orangtuanya.

b. Lingkungan prenatal, merupakan kondisi ketika seseorang masih dalam kandungan ibunya. Pada saat ini akan terjadi hubungan psikologis yang sangat kuat antara ibu dan janin yang dikandungnya.

c. Perbedaan perorangan, sebenarnya adalah perbedaan pribadi yang dalam hal ini, setiap manusia memiliki perbedaan pada kepribadiannya.

d. Lingkungan, dalam hal ini terdapat tiga lingkungan yang memengaruhi kepribadian seseorang, yaitu lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.

e. Motivasi, merupakan kekuatan dorongan pada diri seseorang untuk berbuat sesuatu. Makin besar dorongan dalam diri seseorang untuk bersosialisasi, makin cepat terjadinya proses sosialisasi.


Improve Your English Today