Peranan Sosiologi Dalam Kelompok Pendidik

Penerapan Sosiologi Dalam Kelompok Pendidik

Lingkungan pendidik sebenarnya bukan hanya mencakup
sekolah saja karena sekolah hanya menyelenggarakan pendidikan
formal. Kelompok pendidik di sini akan dibatasi pada guru yang
mengajar di sekolah, yang diharapkan menciptakan suatu suasana
yang sangat mendorong motivasi dan keberhasilan studi anak
didiknya. Pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pen didikan
awal, seperti taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah lanjutan
tingkat pertama, peranan guru sangat besar dan bahkan dominan.
Dengan demikian, hasil kegiatan guru tersebut akan tampak nyata
pada pergaulan siswanya atau bahkan dapat dilihat dari kadar
motivasi dan keberhasilan studi pada taraf tersebut, yang mempunyai
pengaruh sangat besar pada tahap-tahap pendidikan selanjutnya.

Keadaan berubah setelah anak (yang sudah menjadi remaja)
memasuki sekolah lanjutan tingkat atas (SMA). Peranan guru di
dalam membentuk dan mengubah perilaku anak didik dibatasi
dengan peranan anak didik itu sendiri di dalam membentuk dan
mengubah perilakunya. Sudah tentu bahwa guru masih tetap
berperan di dalam hal mendidik anak didiknya agar mempunyai
motivasi yang besar untuk menyelesaikan studinya dengan benar
dan baik. Setidak-tidaknya itulah yang menjadi peranan yang sangat
diharapkan dari guru di tingkat SMA. Pada tahap ini, kepribadian
para siswa yang terdiri atas para remaja yang sudah mempunyai sikap
tertentu terhadap gurunya mulai terbentuk menuju kemandirian.
Oleh karena itu, para remaja mulai mengkritik keadaan sekolah yang
kadang-kadang tidak memuaskan baginya. Lazimnya kritik tersebut
dilancarkan terhadap hal-hal sebagai berikut.

1. Guru-guru yang terlampau tua (konservatif) masih mengembangkan
favoritisme terhadap murid-murid dan hanya melakukan
tugas mengajar sebagai pekerjaan rutin yang tidak berkembang.
Kesenjangan pada usia yang terlalu jauh mengakibatkan
sosialisasi kurang terjalin dengan baik karena antara siswa dan
gurunya memiliki banyak perbedaan pandangan.

2. Kebanyakan guru tidak mau mencari penyerasian nilai dengan
anak didik, tetapi cenderung senantiasa membenarkan nilainilai
yang dianut golongan tua. Dengan kata lain, adanya internalisasi
nilai-nilai yang dilakukan guru terhadap siswanya.

3. Mata pelajaran yang diajarkan kebanyakan merupakan mata
pelajaran wajib sehingga tidak ada peluang untuk mengembangkan
bakat. Sekolah bukanlah penjara yang membatasi
kebebasan anak, tetapi merupakan lembaga sosial tempat anak
melakukan sosialisasi dari nilai-nilai dan hal-hal yang tidak
didapatkannya di rumah (dalam keluarga). Berikan pelajaran
tambahan yang dapat menyalurkan minat dan bakatnya agar
siswa memperoleh keterampilan-keterampilan yang berguna
bagi bekalnya dalam kehidupan bermasyarakat.

4. Di dalam proses belajar mengajar, lebih banyak digunakan
metode ceramah sehingga kemungkinan mengadakan diskusi
dengan guru sedikit sekali. Hal ini berarti membatasi interaksi
siswa dengan gurunya karena aksi yang diberikan guru tidak
memberikan kesempatan kepada siswa untuk meresponsnya,
siswa hanya melakukan interaksi pasif. Kurangnya interaksi
dapat menghambat perkembangan kepribadiannya.

5. Kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk ikut serta
mengelola sekolah hampir-hampir tidak diberikan. Padahal
kesempatan ini sangat baik dalam rangka melatih siswa menghargai
nilai kebendaan (fungsi sekolah) yang diserasikan dengan
nilai konservatif dalam memelihara sekolahnya. Selain itu,
juga dapat melatih siswa dalam kehidupan berorganisasi serta
mengembangkan perannya pada lembaga-lembaga sosial seperti
sekolah.

6. Jarak antara guru dan siswa dipelihara sedemikian rupa sehingga
yang lazim adalah hubungan yang dilakukan secara
formal. Adanya pemisahan jarak ini dapat mengurangi relasirelasi
sosial antara superordinat dengan subordinat yang dapat
menyebabkan jarak sosial semakin tinggi dan menggambarkan
adanya kekurangpentingan bersama.

Melalui berbagai kritikan tersebut diharapkan adanya perbaikan
pada lembaga sekolah dalam rangka mengembangkan wawasan
para siswa dalam menerapkan pengetahuan sosiologinya. Terlebih
lagi, sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak
hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu sebagai
tempat pewarisan nilai-nilai yang dapat membekali siswanya untuk
mempersiapkan diri terjun ke lingkungan yang lebih kompleks, yaitu
masyarakat.

Penerapan Sosiologi Dalam Kelompok Bermain

Penerapan Sosiologi Dalam Kelompok Bermain

Kelompok sepermainan dan peranannya belum begitu tampak
pengaruhnya pada masa kanak-kanak walaupun pada masa itu
seorang anak sudah mempunyai sahabat-sahabat yang terasa dekat
sekali dengannya. Sahabat itu mungkin anak tetangga, teman satu
kelas, anak kerabat, dan seterusnya, yang mungkin diteruskan
hingga usia remaja. Sahabat-sahabat itu memang diperlukan
sebagai penyaluran berbagai aspirasi yang memperkuat unsurunsur
kepribadian yang diperoleh dari rumah. Sudah tentu bahwa
sahabat itu cenderung memberikan pengaruh yang baik dan benar.
Walaupun tidak mustahil ada sahabat yang memberikan pengaruh
kurang baik. Sahabat yang baik dan benar dapat menunjang motivasi
dan keberhasilan studi Anda karena dengan melalui teman-teman
yang terdekat biasanya akan terjalin sosialisasi dengan baik dan
adanya proses saling mengisi. Bahkan, walaupun ada persaingan,
persaingan tersebut dilakukan secara sehat dan saling pengertian.

Selanjutnya, mungkin kelompok sahabat tersebut berkembang
dengan lebih luas karena bersatu dengan kelompok-kelompok
sahabat lainnya. Perkembangan lebih luas itu antara lain disebabkan
karena remaja bertambah luas ruang lingkup pergaulannya, baik di
sekolah maupun di luar sekolah. Kelompok-kelompok yang lebih
besar dan lazim disebut klik (clique) tersebut secara ideal mempunyai
peranan yang positif dalam membangkitkan motivasi belajar dan
keberhasilan studi ataupun dalam pengembangan kepribadian.
Menurut Soerjono Soekanto peranan positif klik terhadap remaja
antara lain sebagai berikut.

1. Rasa aman dianggap penting dari keanggotaan suatu klik tertentu,
dan penting bagi perkembangan jiwa yang sehat.
2. Di dalam klik tersebut, seorang remaja dapat menyalurkan rasa
kecewanya, rasa takut, rasa khawatir, rasa gembira, dan lain
sebagainya, dengan mendapatkan tanggapan yang wajar dari
rekan-rekannya seklik.
3. Klik memungkinkan remaja mengembangkan kemampuan dalam
keterampilan-keterampilan sosial sehingga dia lebih mudah
menyesuai kan diri dengan keadaan.
4. Lazimnya, suatu klik mempunyai pola perilaku dan kaidahkaidah
tertentu yang mendorong remaja untuk bersikap dan
berperilaku secara dewasa.
5. Rasa aman yang ditimbulkan karena remaja diterima oleh
kliknya akan menimbulkan dorongan untuk hidup secara
mandiri (artinya tidak bergantung pada siapapun).

Namun, di balik peranan yang positif itu harus diper timbangkan
pula bahwa kemungkinan timbulnya peranan yang negatif tetap
akan ada. Kemungkinan terjadinya peranan-peranan yang negatif
itulah yang senantiasa harus dicegah, baik oleh orangtua, para guru,
maupun pihak lain yang merasa bertanggung jawab terhadap masa
depan yang benar dan baik dari para remaja. Hal-hal yang negatif
itu antara lain sebagai berikut.

1. Klik mendorong anggotanya untuk bersikap diskriminatif terhadap
yang bukan anggota klik (hal ini mungkin menim bulkan
sikap dan perilaku yang kurang adil).
2. Klik mendorong terjadinya individualisme karena rasa kepatuhan
hanya dikembangkan secara pribadi (individual).
3. Kadang-kadang timbul rasa iri hati dari anggota-anggota klik
yang berasal dari keluarga kurang mampu terhadap mereka
yang berasal dari keluarga yang berada.
4. Kesetiaan terhadap klik kadang-kadang mengakibatkan terjadinya
pertentangan dengan orangtua, saudara, atau kerabatnya.
5. Klik merupakan suatu kelompok tertutup yang sulit sekali
ditembus sehingga penilaian terhadap sikap perilaku anggotanya
sukar dilakukan oleh pihak luar.
6. Suatu klik mendorong anggota-anggotanya untuk menyerasikan
diri dengan pola kehidupan yang sama latar belakangnya
sehingga sulit untuk mengadakan penyesuaian dengan pihakpihak
yang berbeda latar belakangnya.

Kalau seorang remaja menjadi anggota klik tertentu, orangtua
sebaiknya mempertimbangkan secara mantap terlebih dahulu
sebelum memberikan suatu keputusan. Kalau klik tersebut memang
cenderung kurang baik sehingga mungkin akan berkembang menjadi
“gang”, remaja harus diberikan pengertian yang mendalam bahwa
sebaiknya dia tidak menjadi anggota klik tersebut dan lebih baik
mencari teman-teman lain. Namun, jika ternyata klik tersebut
lebih banyak menghasilkan hal-hal positif bagi motivasi dan
perkembangan kepribadian anak, hendaknya si remaja dibiarkan
menjadi anggota klik tersebut. Misalnya, menjadi anggota suatu
kelompok belajar atau remaja masjid. Hal itu bukan berarti bahwa
klik akan dapat menggantikan peranan orangtua terhadap anak
remajanya; kontak dan komunikasi dengan anak masih tetap harus
dipelihara dan dikembangkan. Peranan orangtua terhadap anak
(baik yang masih anak-anak maupun remaja) tidak dapat digantikan
secara utuh oleh pihak-pihak lain. Oleh karena itu, jika salah seorang
dari orangtua menikah lagi (karena pihak lain meninggal dunia
atau karena perceraian), diperlukan suatu proses penyesuaian yang
sangat mendalam.

Sikap toleransi dan hidup berkelompok merupakan sikap yang
mampu menerapkan nilai-nilai sosiologi dalam pergaulan, seperti
kemampuan melakukan interaksi, menghargai adanya perbedaanperbedaan
pada manusia, dan melakukan sosialisasi dengan teman
sebaya yang dapat memengaruhi kepribadiannya.

Penerapan Sosiologi Dalam Kehidupan Keluarga

Penerapan Sosiologi Dalam Keluarga

Di dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang
berhubungan dengan anak adalah keluarganya, yang bisa terdiri
atas orangtuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua, serta mungkin
kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan inilah
si anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang
berlaku sehari-hari. Melalui lingkungan ini juga si anak mengalami
proses sosialisasi awal. Orangtua, saudara, ataupun kerabat terdekat
lazimnya mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak supaya
anak memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan
baik melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya
terhadap nilai-nilai dan norma.

Pada saat ini, orangtua, saudara, ataupun kerabat (secara sadar
atau setengah sadar) melakukan sosialisasi yang biasa diterapkan
melalui kasih sayang. Atas dasar kasih sayang itu, anak dididik
untuk mengenal nilai-nilai tertentu, seperti nilai ketertiban dan
ketenteraman, nilai kebendaan dan keakhlakan, nilai kelestarian dan
kebaruan, dan seterusnya.

Pada nilai ketertiban dan keten teraman ditanamkan perilaku
disiplin dan perilaku bebas yang senantiasa harus diserasikan. Misalnya,
si anak yang lapar boleh makan dan minum sampai kenyang, tetapi
pada waktu-waktu tertentu; anak boleh bermain sepuas-puasnya,
tetapi dia harus berhenti bermain apabila waktu makan telah tiba.
Menerapkan nilai kebendaan dan nilai keakhlakan serta penyerasian
pada anak, misalnya, dapat ditanamkan dengan jalan membelikan
mainan yang diinginkannya, tetapi mainan itu harus dipelihara baikbaik
agar tidak cepat rusak. Kalau mainan itu dirusaknya, orangtua
harus dapat menahan diri untuk membelikannya segera mainan yang
baru. Melalui cara-cara itu pula, nilai kelestarian dan kebaruan dapat
ditanamkan melalui perilaku teladan yang sederhana. Contoh lainnya, si
anak dibelikan makanan kesukaannya, tetapi dia harus berbagi dengan
teman-teman atau saudaranya.

Apabila usia anak meningkat remaja, penanaman nilai-nilai
tersebut harus tetap dipertahankan. Akan tetapi, hal tersebut
diterapkan dengan cara-cara yang lain sesuai dengan pertumbuhan
jiwa remaja tersebut. Apabila caranya tidak disesuaikan, yang terjadi
bukan penerapan nilai, malah sebaliknya merupakan pemaksaan
terhadap kebebasannya yang akan memunculkan penolakanpenolakan.

Seorang anak remaja pada umumnya tidak mau
diperlakukan seperti anak kecil oleh orangtuanya karena hal itu
akan menjadi olokan dan cemoohan teman-temannya. Akibatnya,
perkembangan jiwa anak akan terhambat, bahkan bisa menjadi
minder dan tidak mau bergaul lagi.

Secara fisik dan psikis, usia remaja merupakan masa-masa di
mana tingkat pertumbuhan sedang mengalami puncak prosesnya.
Untuk bisa mengikuti perkembangan remaja agar bisa berlangsung
dengan baik, perlu ada pengawasan dari pihak keluarga. Dalam hal
ini, peran orang tua sebagai pengarah dan pembentuk perkembangan
kepribadian remaja dituntut memberi perhatian secara intensif.
Di dalam sebuah keluarga, yang cenderung terjadi adalah
pengawasan dan perhatian yang kurang terhadap sikap dan perilaku
seorang anaknya yang menjelang remaja. Hal ini menyebabkan
perkembangan jiwa yang masih labil sehingga rentan terhadap
perbuatan dan pengaruh dari luar yang cenderung bertentangan
dengan nilai dan norma. Misalnya, kenakalan remaja seperti
penyalahgunaan obat-obatan, minuman beralkohol, dan narkotika.

Memang, kebanyakan orangtua kadang-kadang lebih mementingkan
disiplin atau keterikatan daripada kebebasan, sedangkan
remaja lebih menyukai kebebasan daripada kedisiplinan. Namun,
manusia memerlukan keduanya dalam keadaan yang serasi. Manusia
yang terlalu disiplin hanya akan menjadi “robot” yang mati daya
kreativitasnya. Adapun manusia yang terlalu bebas akan menjadi
makhluk lain (yang bukan manusia).

Keberhasilan anak dalam proses sosialisasi ini dapat dilihat
dari motivasi dan keberhasilan studinya. Tumbuhnya motivasi dan
keberhasilan studi anak justru ditunjang oleh keserasian-keserasian
tersebut. Kalau pada anak, orangtualah yang harus menanamkan
agar si anak berpengetahuan. Adapun pada remaja, orangtua harus
memberikan pengertian melalui cara-cara yang dewasa. Anak atau
remaja yang diharuskan belajar terus-menerus atau dibebani dengan
kewajiban mengikuti pelajaran tambahan (les) atau keterampilan
tertentu akan mengakibatkan kebosanan sehingga pekerjaan
tersebut dianggapnya sebagai kegiatan rutin belaka. Dia tidak
sempat mengenyam kebebasan berpikir, oleh karena selalu terbebani
dengan keterikatan, yang disebabkan orangtua senantiasa memegang
peranan yang menentukan di dalam mengambil keputusankeputusan.
Anak atau remaja tersebut hanya dilatih untuk berpikir
semata-mata, tanpa mendidiknya untuk senantiasa menyerasikan
pikiran dengan perasaan.

Membiarkan anak atau remaja untuk bersikap dan berperilaku
semaunya juga tidak benar. Mereka memerlukan tuntunan orangtua,
saudara-saudara, dan kerabat dekatnya, tetapi tuntunan itu tidak
diperolehnya. Lingkungan yang berpola pikiran demikian juga tidak
menghasilkan pengaruh yang menunjang tumbuhnya motivasi dan
keberhasilan studi karena dilepas begitu saja. Kritik para remaja
menurut Soerjono Soekanto biasanya tertuju pada hal-hal sebagai
berikut.

1. Orangtua terlalu konservatif atau terlalu liberal.
2. Orangtua hanya memberikan nasihat, tanpa memberikan contoh
yang mendukung nasihat tersebut.
3. Orangtua terlalu mementingkan pekerjaan di kantor, organisasi,
dan lain sebagainya.
4. Orangtua mengutamakan pemenuhan kebutuhan material
belaka.
5. Orangtua lazimnya mau “menangnya” sendiri (artinya, tidak
mau menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar remaja yang
mungkin berbeda).

Suasana keluarga yang positif bagi tumbuhnya motivasi dan
keberhasilan pengembangan kepribadian, baik dalam studi maupun
aspek kehidupan lainnya, adalah keadaan yang menyebabkan anak
atau remaja merasa dirinya aman atau damai apabila berada di
tengah keluarga. Suasana tersebut biasanya terganggu apabila terjadi
hal-hal berikut.

1. Tidak ada saling pengertian atau pemahaman mengenai dasardasar
kehidupan bersama.
2. Terjadinya konflik mengenai otonomi; di satu pihak orangtua
ingin agar anaknya disiplin, namun di dalam kenyataan mereka
justru mengekangnya.
3. Terjadinya konflik nilai-nilai yang tidak diserasikan.
4. Pengendalian dan pengawasan orangtua yang berlebihan.
5. Tidak adanya rasa kebersamaan dalam keluarga.
6. Terjadinya masalah dalam hubungan antara ayah dan ibu,
sebagai suami dan isteri, dan konflik yang tidak mungkin lagi
diatasi.
7. Jumlah anak yang banyak dan tidak disertai atau didukung oleh
fasilitas yang memadai.
8. Campur tangan pihak luar (baik kerabat maupun tetangga).
9. Status sosial ekonomi yang di bawah standar.
10. Pekerjaan orangtua (misalnya, kedudukan istri lebih tinggi daripada
suami, sehingga penghasilannya juga lebih besar. Hal ini
tidak mustahil akan mengakibatkan suami merasa rendah diri
dan melampiaskan ke arah yang negatif).
11. Aspirasi orangtua yang kadang-kadang tidak sesuai dengan
kenyataan yang ada.
12. Konsepsi mengenai peranan keluarga serta anggota keluarga
yang meleset dari kenyataan yang ada.
13. Timbulnya favoritisme di kalangan anggota keluarga.
14. Persaingan yang sangat tajam antara anak-anak sehingga
menimbulkan pertikaian.

Walaupun demikian, keberhasilan anak atau remaja dalam
pergaulan maupun masa depannya tidak sepenuhnya bergantung
pada peranan orangtua dalam keluarga. Ini berarti seorang anak tidak
boleh terlalu menyalahkan orangtua; dia juga harus mengerti dan
memahami keadaan, kedudukan, dan permasalahan orang- tuanya,
bahwa apa yang diberikan orangtuanya adalah yang terbaik dan
tidak mungkin mencelakakan dirinya.